Pewarta: Dimas Anugrah Adiyadmo / Vanesya Tri Utami
Foto: Deden Setiawan
© PPG UNJA 2025

JAMBI- Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Jambi (UNJA) menyelenggarakan kegiatan ‘Diseminasi Program Micro-Credential Literasi‘ sebagai tindak lanjut dari program beasiswa micro-credential literasi yang digagas oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi calon guru pada era pendidikan modern yang berbasis literasi.
Kegiatan diselenggarakan secara hybrid di Hotel Aston Jambi dan Zoom Meetings pada Kamis, 15 Mei 2025. Hadir dalam kegiatan ini Koordinator PPG UNJA, Bunga Ayu Wulandari, S.Pd., M.EIL., Ph.D.; Wakil Koordinator PPG UNJA, Dra. Yusnidar, M.Pd.; Sekretaris Koordinator PPG UNJA, Drs. Maryono, M.Pd.; para Koordinator Bidang Studi PPG; guru pamong; serta tim tangguh pengelola PPG UNJA.

Tiga narasumber dihadirkan untuk mengisi kegiatan ini, yaitu:
-
Bunga Ayu Wulandari, Ph.D., dengan materi Literacy as Social Practice,
-
Fiftinova, S.S., M.Pd. (Universitas Sriwijaya) dengan materi CRT and Translanguaging, dan
-
Hesti Wahyuni Anggraini, S.Pd., M.Pd. (Universitas Sriwijaya) dengan materi Multimodal Literacy and Technology Use in Teaching Literacy.
Selain itu, sesi penyampaian materi dipandu oleh dua moderator yaitu Dawam Suprayogi, S.Pd., M.Sc., dan Muhammad Fauzan, S.Pd., M.Pd.

Kegiatan ini juga mencakup penugasan Implementation in the Classroom sebagai bentuk aplikasi pembelajaran. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan penerapan literasi sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran dan pembentukan guru profesional.
Dalam sambutannya, Koordinator PPG UNJA, Bunga Ayu Wulandari, Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan inovasi untuk pengembangan profesionalisme guru.
“Micro-credential literasi ini merupakan salah satu inovasi dalam pengembangan profesionalisme guru sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi pengajar. Program ini dirancang untuk memberikan pengakuan terhadap kompetensi spesifik yang dibutuhkan guru dalam mengintegrasikan literasi dalam proses pembelajaran,” ujarnya.
Ia juga berharap para calon guru dapat menjadi pendidik profesional yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Mudah-mudahan adik-adik kita calon guru generasi baru menjadi guru profesional seperti harapan kita bersama. Kami mengucapkan terima kasih atas kerja samanya. Insyaallah kerja sama kita ini akan berlanjut dalam rangka kontribusi kita pada pendidikan Indonesia,” tambahnya.
Wakil Koordinator PPG UNJA, Dra. Yusnidar, M.Pd., menegaskan pentingnya pemahaman literasi yang menyeluruh bagi guru dan calon guru. Ia menyayangkan masih adanya penyempitan makna literasi hanya sebatas kemampuan membaca.
“Latar belakang kami adalah satu misi utama, yaitu meningkatkan kemampuan literasi guru-guru profesional termasuk kita semua. Selama ini, baik guru-guru tertentu maupun mahasiswa calon guru profesional atau prajab, masih dikatakan rendah literasinya. Yang lebih memprihatinkan, mereka sering menganalogikan literasi hanya sebagai kemampuan membaca. Padahal, kami selalu menekankan bahwa literasi sesungguhnya mencakup empat kemampuan, yaitu mengidentifikasi, menentukan, mengevaluasi, dan merancang. Minimal keempat kemampuan ini harus kita kuasai agar benar-benar melek literasi,” tegas Yusnidar.
Salah satu narasumber, Hesti Wahyuni Anggraini, M.Pd., juga menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk mempertajam pengetahuan literasi peserta.
“Yang ditekankan dalam program ini adalah untuk mempertajam kembali pengetahuan literasi bagi guru PPG dan juga mahasiswa PPG itu sendiri,” tuturnya.

Senada dengan Hesti, Fiftinova, S.S., M.Pd., berharap guru dapat menerapkan ilmu yang diperoleh untuk meningkatkan kompetensi peserta didik.
“Proses pembelajaran dimulai dari pusat, seperti dosen di perguruan tinggi. Para dosen ini kemudian menyosialisasikan pengetahuan dan strategi pembelajaran kepada guru pamong yang tersebar di berbagai sekolah. Selanjutnya, diharapkan para guru menerapkan ilmu tersebut di kelas dan mengimprove kompetensi dari peserta didik terutama kompetensi literasi. Literasi saat ini bukan hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menginterpretasi, dan memanfaatkan informasi digital seiring dengan perkembangan teknologi,” tambah Fiftinova.

Sutrimo, M.Pd., salah satu peserta, turut menyampaikan kesan dan manfaat dari kegiatan ini.
“Dari program micro-credential dan diseminasi yang dilaksanakan hari ini, saya merasakan banyak manfaat, baik untuk pribadi saya maupun rekan-rekan guru yang hadir. Kami jadi lebih memahami makna literasi yang sesungguhnya, mampu membedakan antara literasi tradisional dan literasi yang lebih kontekstual, serta yang paling penting, kami dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam mendidik peserta didik. Program ini jelas meningkatkan kompetensi kami sebagai guru, karena selain menambah pengetahuan, juga membiasakan diri untuk terus berkembang dan menghadirkan inovasi-inovasi baru melalui program micro-credential ini,” ungkap Sutrimo.
Lisma Mustika Sari, M.Pd., peserta lainnya, juga mengungkapkan wawasan baru yang diperolehnya setelah mengikuti kegiatan ini.
“Ternyata banyak sekali hal baru yang saya dapatkan. Salah satunya adalah pandangan saya sebelumnya yang menganggap bahwa literasi hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis. Ternyata, literasi jauh lebih dari itu. Pandangan modern menyatakan bahwa literasi juga mencakup kemampuan berpikir, mengolah informasi dari berbagai konteks atau media baik digital maupun visual. Ini sungguh luar biasa dan membuka wawasan saya,” tuturnya.
Kegiatan diseminasi ini diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas guru pamong dan calon guru dalam menghadirkan pembelajaran literasi yang kontekstual, aplikatif, dan berdampak langsung bagi peserta didik.
“Micro-credential literasi ini merupakan salah satu inovasi dalam pengembangan profesionalisme guru sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi pengajar. Program ini dirancang untuk memberikan pengakuan terhadap kompetensi spesifik yang dibutuhkan guru dalam mengintegrasikan literasi dalam proses pembelajaran,” ujarnya.